“Sesungguhnya Allah SWT sangat senang dengan seorang hamba jika melakukan suatu tugas dilakukannya secara itqan”. (HR ,,,,,) Dalam terminologi Islam, Itqan berarti "doing the job at the best possible quality, melakukan suatu tugas dengan kualitas terbaik."
Rasulullah Saw adalah teladan terbaik dalam pengembangan diri, teladan terbaik dalam bisnis dan entrepreneurship, teladan terbaik dalam membina keluarga sakinah, teladan terbaik dalam berdakwah, teladan terbaik dalam mengatur urusan sosial dan politik, teladan terbaik dalam mendidik, teladan terbaik dalam membangun pranata hukum, teladan terbaik dalam strategi pertahanan dan militer. (Muhammad Syafii Antonio, Muhammad the Super Leader Super Manager)
Sejak lima belas abad yang lalu, Rasulullah Saw telah mencanangkan pentingnya kualitas dalam berkarya dan melayani. Karena bisnis adalah proses menjual karya, produk dan jasa. Maka kualitas karya kita akan sangat menentukan maju mundurnya bisnis kita. Lebih dari itu, kualitas karya kita akan dinilai oleh banyak pihak dengan konsekwensi yang banyak pula. Pihak pertama yang akan menilai karya kita adalah Allah Swt, pihak berikutnya adalah nasabah dan mitra bisnis, lalu vendor, dunia perbankan, pasar modal, asuransi dan lembaga pembiayaan, lembaga lembaga pemerintah, calon importir luar negeri, lembaga rating, mitra industri, dan tentunya hati sanubari kita sendiri yang tidak bisa dibohongi.
Rasulullah Saw bersabda :
“innallah yuhibbu an yaro abdan idza amila amalan an yutqinahu, sesungguhnya Allah SWT sangat senang dengan seorang hamba jika melakukan sesuatu dilakukannya secara itqan”.
Dalam terminologi Islam, Itqan berarti doing at the best possible quality. Bekerja secara itqan artinya mencurahkan fikiran terbaik, fokus terbaik, koordinasi terbaik, semangat terbaik dengan bahan baku terbaik. Sehingga insya Allah hasilnya pun terbaik juga. Itqan juga memiliki makna professionalisme dan spesialisasi. Seorang dikatakan mutqin jika ia mahir, piawai dan tiada keragunan dengan bidang yang digelutinya. Para pelaku bisnis dituntut untuk menemukan ide-ide baru dalam mempertahankan eksistensinya. Ide-ide tersebut mestilah berorientasi kepada keinginan serta kepuasan konsumen. Karena merekalah yang menilai dan melakukan keputusan pembelian. Keputusan mereka untuk membeli sesuatu kepada pihak tertentu, sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan yang diberikan dan kualitas produk yang ditawarkan.
Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.”
(QS. al-An’am: 132) | |
Browse » Home » Archives for Oktober 2012
Ajaran Rasulullah bahwa Bekerja harus Itqan
04.51
Unknown
Kepercayaan konsumen membawa kepada kesuksesan
04.40
Unknown
Dari keunggulan karakter yang dimiliki Muhammad SAW dalam berbisnis menimbulkan kepercayaan konsumen (consumer trust). Kepercayaan konsumen membawa kepada jalan menuju sukses bisnis.
Tumbuhnya kepercayaan pada dasarnya bersumber dari kepedulian pebisnis terhadap konsumen. Kepedulian ini terwujud melalui “keterlibatan” seorang pebisnis dalam menunjukkan “perhatian” ketika melayani dan berinteraksi dengan konsumen. “Keterlibatan” dimaknai sebagai kesediaan untuk melayani sepenuh hati. Bersikap jujur, adil, ramah, cakap, dan senang membantu pelanggan merupakan perwujudan dari keterlibatan positif seorang pebisnis terhadap konsumennya sebagaimana ditunjukkan Nabi Muhammad Saw. Sedangkan menjaga hak-hak konsumen dan tidak menjelek-jelekkan pesaing bisnis adalah kode etik yang senantiasa dijaga Nabi demi mendukung tumbuhnya kepercayaan dari konsumen, mitra bisnis, dan masyarakat. Mempercepat tumbuhnya kepercayaan konsumen (consumer trust) adalah suatu proses yang sangat ditentukan oleh kualitas diri (profesionalisme) serta komitmen dalam menjunjung nilai-nilai etika dan moral. Kepercayaan harus bisa diperoleh dari diri sendiri, berlanjut ke hubungan antarindividu, berlanjut ke pasar dan lingkungan masyarakat luas. Meningkatnya trust dapat mempercepat pencapaian keberhasilan bisnis (speed of trust). | |
Strategi Nabi Muhammad SAW dalam membangun kepercayaan Bisnis
04.36
Unknown
Sekitar 25 tahun lamanya Muhammad Saw berkiprah di bidang bisnis. Beliau telah meletakkan dasar-dasar etika dan moral, yang mencakup manajemen dan etos kerja yang mendahului zamannya. Prinsip-prinsip bisnis yang diwariskan Nabi Muhammad Saw dalam membangun kepercayaan publik telah mendapatkan pembenaran akademis sejak penghujung abad ke-20 atau awal abad ke-21.
Masih berkenaan dengan upaya Nabi Muhammad Saw dalam membangun kepercayaan dalam bisnis dan muamalah, Machda (2008) mengemukakan bahwa:
Pertama, Muhammad membangun hubungan interpersonal yang amat berkesan di mana pun beliau berada. Beberapa sikap yang penting, antara lain, raut muka yang selalu tersenyum dan memancarkan persahabatan. Beliau selalu menunjukkan fokus perhatian kepada siapa saja yang diajak atau mengajak berbicara. Walau dalam waktu sesaat, Nabi mampu mengingat nama maupun masa lalu dari mitra yang dijumpainya. Muhammad Saw mampu mengangkat suasana menjadi ceria dan mendorong sikap untuk saling mendukung antarsesama sehingga tercipta kondisi optimisme meskipun dalam situasi serba berkekurangan.
Kedua, Muhammad Saw mampu menjelaskan setiap adanya perbedaan cara pandang dan menghargai perbedaan tersebut. Secara pelan tapi pasti, beliau mampu membawa mereka yang berbeda pandangan untuk melihat dari sisi lain, dan menghargai persepsi yang beragam. Dengan perkataan lain, beliau dapat mengarahkan lawan debatnya tanpa terasa dan meyakinkan ke sasaran positif yang diinginkan.
Ketiga, Muhammad Saw mampu menciptakan kepastian, tidak hanya berupa angan-angan normatif. Beliau memperlihatkan sikap menghargai waktu dan tidak mudah obral janji, memperlihatkan kesediaan untuk berkorban, dan tidak hanya mengedepankan kepentingan diri sendiri. Bersama Muhamamad Saw, orang-orang merasa terjamin kepastian masa depannya, meningkat sense of certainty-nya. Pada suatu zaman yang penuh ketidakpastian dan berkembang suasana saling berkhianat, kehadiran sosok yang dapat dipercaya dan diandalkan menjadi dambaan.
Demikianlah di antara sikap dan perilaku Nabi dalam membangun dan mempercepat tumbuhnya kepercayaan dari konsumen, mitra bisnis, serta khalayak luas.
Teladan Nabi Muhammad Saw dalam proses membangun Trust.
| |
Menghormati kesepakatan dan tidak sewenang-wenang
01.54
Unknown
| Bagi kita yang berdiinul islam, suritauladan Rosulullah Saw. adalah harga mati untuk diikuti termasuk dalam meraih sukses bisnis dan enterpreunership. Dalam posting kali ini saya sampaikan, salah satu strategi sukses bisnis dan enterpreunership Rosulullah Saw. yaitu menghormati kesepakatan dan tidak sewenang-wenang. Tulisan ini saya adopsi dari website, Master Ekonomi Islam, Bapak Syafii Antonio. Insya Allah menjadi motivasi dan inspirasi. |
| Meskipun Muhammad Saw telah menjadi pemimpin ummat, namum beliau tidak berbuat sekehendak hati saat bertransaksi (bermuamalah). Ali menceritakan, Nabi meminjam beberapadinardari seorang tabib Yahudi. Tatkala ia meminta pelunasan dari Nabi, beliau menjelaskan bahwa dirinya belum punya apa-apa untuk membayar utang tersebut. Si Yahudi berkata, "Saya tidak akan meninggalkanmu, Muhammad, sampai engkau membayarnya." Nabi berkata, "Kalau begitu saya akan duduk bersamamu". Karena Nabi konsisten dengan ucapannya, beliau melakukan hal tersebut. Nabi shalat dari dzuhur hingga esok paginya, shalat subuh, tidak jauh-jauh dari lelaki Yahudi tadi. Para sahabat Nabi yang mengetahui hal tersebut mengecam si Yahudi. Mereka berkata, "Ya Rasulullah, apakah orang Yahudi ini yang menahanmu?" Beliau menjawab, "Tuhanku menahanku untuk tidak menyalahi kesepakatan yang kubuat dengan orang Yahudi atau orang lain." Singkat riwayat, setelah beberapa hari berlalu, "Yahudi itu berkata, " Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulullah. Separuh kekayaan saya akan saya belanjakan di jalan Allah. Saya bersumpah, tujuan saya memperlakukan engkau seperti itu semata-mata untuk memastikan gambaran tentang engkau yang telah diungkapkan dalam Taurat (Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah). Di riwayat lain, Umayyah bin Safwan mengutip dari ayahnya yang mengatakan bahwa pada Perang Hunain, Nabi telah meminjam baju besi darinya. Ia bertanya pada Nabi, "Apakah engkau akan mengambilnya dengan paksa, Muhammad?" Terhadap pertanyaan ini Nabi menjawab, "Tidak, itu adalah sebagai pinjaman dengan jaminan pasti akan dikembalikan." (HR. Abu Dawud). Pada suatu kali datanglah seorang kreditor, dan memperlakukan Nabi dengan sangat kasar saat menagih utangnya. Umar ingin menangkap orang tersebut tetapi Rasulullah malah mengatakan, "Umar, hentikan, aku lebih suka agar engkau menyuruhku untuk membayar utang tersebut - karena ia lebih membutuhkan - daripada engkau menyuruhnya untuk bersabar." (Zad al-Maad). Muhammad Saw pernah membeli seekor unta, kemudian datanglah penjualnya dan meminta uangnya dengan kata-kata yang sangat kasar. Para sahabat mendengarnya tetapi beliau berkata, "Biarkan ia, sebab si pemegang hak berhak untuk berbicara." Keteguhan Muhammad Saw dalam menerapkan prinsip-prinsip transaksi bisnis dan muamalah yang haq, bersumber dari kokohnya aqidah yang menghujam di hati beliau. Suatu ketika, beliau bertransaksi dagang dengan seseorang, dan perselisihan di antara mereka pun terjadi. Orang-orang meminta agar Muhammad Saw bersumpah atas nama Tuhan mereka, al-Lat dan al-Uzza, untuk memperkuat pernyataannya. Kata Muhammad, "Aku tidak akan pernah melakukan itu. Bahkan, kapan saja jika aku kebetulan melewati berhala, aku sengaja menjauhinya dan mengambil arah lain." Mendengar ketegasan Nabi, seseorang merasa terkesan dan berkata, "Engkau jujur dan apa saja yang engkau utarakan adalah mutlak benar. Demi Allah, inilah dia seorang laki-laki yang keagungannya selalu dielu-elukan oleh para intelektual kami dan telah disebutkan oleh kitab suci agama kami." Banyak riwayat yang menggambarkan tingginya budi pekerti Muhammad Saw terkait transaksi binsis dan kegiatan muamalah. |
Motivasi Kerja Berwirausaha
05.48
Unknown
Posting perdana ini, akan menguraikan bagaimana Nabi kita, Rosulullah Muhammad saw menjadikan "KERJA MANDIRI" lebih utama dari meminta-minta walaupun bermodalkan sisa uang makan. Marilah kita pahami dan hayati secara ikhlash hadits ini dan kemudian jadikan motivasi kerja sebagai Wirausahawan/wati Muslim. Yakinlah bila kita melakukannya, kita termasuk orang yang menta'ati Allah dan Rosul-Nya, dan sesuai dengan janjinya, Allah akan memberikan kemudahan dalam menjalankannya. Insya Allah...
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Dari Anas bin Malik ra bahwa ada seorang lelaki Anshar yang datang menemui Nabi saw dan dia meminta sesuatu kepada Nabi saw. Nabi saw bertanya kepadanya,”Apakah di rumahmu tidak ada sesuatu?” Lelaki itu menjawab,”Ada. Dua potong kain, yang satu dikenakan dan yang lain untuk alas duduk, serta cangkir untuk meminum air.” Nabi saw berkata,”Kalau begitu, bawalah kedua barang itu kepadaku.” Lelaki itu datang membawanya. Nabi saw bertanya, ”Siapa yang mau membeli barang ini?” Salah seorang sahabat beliau menjawab,”Saya mau membelinya dengan harga satu dirham.” Nabi saw bertanya lagi,”Ada yang mau membelinya dengan harga lebih mahal?” Nabi saw menawarkannya hingga dua atau tiga kali. Tiba-tiba salah seorang sahabat beliau berkata,”Aku mau membelinya dengan harga dua dirham.” Maka Nabi saw memberikan dua barang itu kepadanya dan beliau mengambil uang dua dirham itu dan memberikannya kepada lelaki Anshar tersebut.
Lalu beliau bersabda kepadanya, “separuh uang ini kamu belikan makanan untuk keluargamu dirumah dan separuhnya lagi kamu belikan kampak dan bawalah kepadaku disini.”
Sahabat dari Anshar itupun segera memenuhi perintah Nabi kemudian ia kembali ke hadapan Nabi dengan membawa kampak yang baru dibelinya. Nabi menyambutnya seraya memegang erat tangannya dan menyerahkan sebatang kayu kedalam tangannya, sambil bersabda, “Berangkatlah engkau sekarang mencari dan menebang kayu, kemudian menjualnya (lanjutan hadits diatas). Janganlah kamu menjumpaiku dalam waktu lima belas hari!”
Laki-laki itu pergi ke bukit untuk mencari kayu kemudian menjualnya. Sesudah lewat lima belas hari, dia datang kembali kepada Nabi, dan tangannya menggenggam uang sebanyak sepuluh dirham. Sebagian uang itu dibelikannya pakaian, sebagiannya lagi untuk makanan, sedangkan sisanya disimpannya untuk menjadi modal selanjutnya. Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya, “Perbuatan ini lebih baik bagimu daripada kamu hidup mengemis dan meminta-minta, yang nanti akan menjadi cacat bagi mukamu pada hari kiamat. Sesungguhnya kerja meminta-minta tidaklah dibolehkan, kecuali pada tiga saat yang genting : pada saat kemiskinan (kelaparan) yang sangat, pada saat utang yang sangat memberatkan, atau karena pembayaran denda yang menyedihkan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Tirmidzi mengatakan hadits ini hadits hasan.
Langganan:
Postingan (Atom)

Previous Article